21.9.09

SENI MELUDAH DARI TANAH PAPUA

Oleh: George Junus Aditjondro*

ADAKAH seni meludah? Ada, apabila yang diludahkan adalah cairan hasil kunyahan pinang muda (Areca catechu), kembang sirih dan kapur hasil pembakaran kerang. Selain itu, tidak sembarang orang dapat menguasai seni meludah cairan pinang dan teman-temannya itu. Sang peludah harus cukup akrab mengunyah pinang, dan tidak teler setelah mengunyah sebiji pinang muda dan kawan-kawannya. Kalau tidak, mana cukup ludah pinangnya untuk menghiasi selembar kanvas? Apalagi ludahan pertama, kedua, ketiga, dan keempat dari sebiji pinang semakin berkurang kepekatan dan warna merahnya.

Tapi itupun belum cukup untuk menjadi pelukis ludah pinang. Para pekerja seni ini harus punya dorongan emosional, untuk mengunyah pinang sebanyak mungkin, untuk mengisi selembar kanvas, atau selembar kulit kayu, medium lukisan orang Sentani. Para pekerja seni ini bagusnya didorong oleh kemarahan untuk meludahkan isi hati bersama isi mulut mereka, ke atas kanvas atau kulit kayu. Semua itu ada di Tanah Papua, baik di provinsi Papua maupun Papua Barat, karena para pengunyah pinang di pulau kasuari di mana-mana selalu diingatkan oleh papan peringatan di dinding tempat-tempat umum, yang berbunyi: “DILARANG MELUDAH PINANG DI SINI!”

Memang, ada stigma jorok terhadap para pengunyah pinang di Tanah Papua. Bersama stigma jorok itu adalah stigma budaya terbelakang, sebab di banyak daerah di Nusantara, tinggal orang tua dan orang desa saja yang masih mengunyah pinang. Sementara orang muda dan orang kota, sudah beralih ke rokok.

Genre baru seni lukis ini dipamerkan selama lima hari oleh Bengkel Pembelajaran Antara Rakyat (Belantara) Papua di Rumah Budaya Tembi di Sewon, Bantul, Yogyakarta, awal Agustus lalu. Waktu pameran dibuka, penonton dapat menyaksikan sendiri, proses melukis, atau tepatnya, proses meludah di atas kanvas besar oleh dua orang pelukis Papua (Wilhelmus Kalami dan Josua Kristian Binur) dan tiga orang pelukis Yogya (Wardi Bajang, Enjun J.A., Tri Suharyanto Kotrek). Selanjutnya, para pengunjung pameran diajak melihat hasil karya perupa-perupa anggota Belantara Papua, yakni Wilhelmus Kalami, Josua Kristian Binur, Musa, Yesaya Mayor, Lanjar Jiwo, Frans Kacili, Metu Dimara. Ada juga karya kolektif dari beberapa sanggar di Sorong dan Raja Ampat, yakni Koranu Fyak, Warimak, dan Waifoi. Lalu, buat yang masih penasaran, Wilhelmus Kalami dan Lanjar Jiwo menyelenggarakan workshop sehari.

Ternyata, cara melukis dengan ludah pinang ini, tidak gampang, karena pertama harus mengunyah-ngunyah pinang, kapur, dan sirih cukup banyak dan cukup lama, supaya ludahnya bisa pekat dan berwarna merah tua. Kalau tidak, ludahnya sangat cair, dan warnanya coklat muda kekuning-kuningan. Selanjutnya, cairan itu harus segera diusap-usap dengan tangan, membentuk apa yang ada di bayangan sang pelukis.

Paling mudah, menggunakan tangan sebagai “cetakan”, sehingga terbentuk gambar tangan di kanvas, menyerupai lukisan-lukisan manusia gua ribuan tahun lalu. Lihat saja di gua-gua di Pulau Misool dan Teluk Mayalibit di Distrik Warsamdin, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, masih dapat ditemukan lukisan-lukisan “cap tangan” yang terbentuk dari tangan-tangan manusia yang diludahi suatu cairan. Belum diketahui, cairan apa yang digunakan manusia gua dari Raja Ampat, ribuan tahun lalu. Namun penduduk setempat percaya, nenek moyang mereka sudah menggunakan ludah pinang.

Yang jelas, gaya lukisan begini, yang dalam literatur Melanesia dikenal dengan istilah gaya “stensil tangan”, merupakan bukti penyebaran nenek moyang rumpun Melanesia, yang bermigrasi entah dari mana, tapi meninggalkan lukisan-lukisan mereka dari gua Leang-leang di Kecamatan Bantimurung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sampai ke gua Yalo di Pulau Malakula di Kepulauan Vanuatu di kawasan Melanesia, yang terkenal dengan lukisan stensil sepasang tangan. Sementara cabang rumpun yang lain yang menurunkan orang Aborijin, meninggalkan lukisan gua di Pegunungan Kimberley di Australia Barat Laut, di mana bukan lukisan stensil tangan yang menonjol, tapi lukisan bergaya Wanjina. Itulah mahluk-mahluk pelindung mereka, yang punya mata dan telinga, tapi tanpa mulut. Mirip mahluk-mahluk antariksa yang sering kita lihat di film-film science fiction.

Diilhami lukisan “stensil tangan” bertangga-tangga di gua-gua Misol dan Teluk Mayalibit, serta didorong larangan meludah pinang yang tertempel di semua tempat umum, beberapa orang pekerja seni di Sorong mulai menjajaki kemungkinan mengalihkan kebiasaan meludah pinang menjadi ekspresi seni. Itulah hasil interaksi pekerja seni dari Yogya, Lanjar Jiwo, yang sudah berbulan-bulan bercokol di Sorong, dengan Jesaya Mayor, seorang perupa berdarah Biak-Betew (turunan diaspora Biak di Kepulauan Raja Ampat). Anggota Sanggar Seni Budaya Koranu Fyak ini sudah berhasil menggunakan teknik melukis ini pada kulit kayu, kertas, dan daun lontar.

Ide ini cepat mendapat tanggapan dari para pekerja seni setempat, apalagi mengingat susahnya memperoleh kanvas dan cat di kota Sorong maupun di Pulau-Pulau Raja Ampat. Setelah sukses mengembangkan teknik seni lukis ini di kalangan masyarakat pesisir, Lanjar Jiwo dan Jesaya Mayor mengembangkannya ke masyarakat Maybrat di Pegunungan Tamrau. Walhasil, seniman-seniman Maybrat mengoleskan ludah pinang pada patung-patung karwar hasil ukiran mereka. Patung-patung kayu ini menggambarkan leluhur mereka.

Kembali ke seni lukis ludah pinang, ada yang melakukan modifikasi, yakni campuran pinang, kapur, dan sirih tidak dikunyah, tapi ditumbuk dalam lesung kecil dan dicampur air, sehingga bisa dipoleskan dengan kwas, seperti cat biasa. Namun baik bagi yang lebih mahir meludah, maupun yang meramu campuran yang ditumbuk dengan air, teknik “stensil” tetap yang paling digemari, dengan tidak hanya menggunakan tangan sang pelukis sebagai ‘sablon’, tapi juga daun-daunan.

Baru setelah sejumlah sanggar di kota Sorong dan di kepulauan Raja Ampat telah mengadopsi seni lukis ludah pinang itu, Belantara Papua, yang didirikan 5 Agustus 2004 di kota Sorong, berusaha memamerkan hasil karya mereka di Jawa. Ornop ini, memang berisikan tokoh-tokoh seniman dan pekerja seni, yang sudah lama bergiat dalam pengembangan berbagai cabang seni di Tanah Papua. Dua orang perintis Belantara Papua, Abner Korwa dan Max Binur, adalah mantan anggota kelompok seni-budaya Mambesak di kampus Universitas Cenderawasih di Abepura, dekat Jayapura. Setelah hijrah ke Sorong, dua orang pekerja seni dari Jawa bergabung dengan mereka, yakni Danar Wulandari, staf peneliti Insist (Yogyakarta) yang kemudian jatuh cinta dan menikah dengan Max Binur, serta Erawati, mantan aktivis Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, yang kini sudah meninggalkan Tanah Papua.

Dengan demikian, Belantara Papua semakin setia pada namanya, yakni Bengkel Pembelajaran Antara Rakyat, dalam hal ini, rakyat Papua dan rakyat Jawa. Selain belajar makan pinang, para seniman Yogya juga belajar meludah secara artistik, bersama-sama sahabat merangkap guru-guru mereka dari Papua.

*Penulis adalah dosen tamu Program Studi Ilmu, Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pencinta seni lukis, dan peneliti kebudayaan Melanesia.

PINANG DAN JATI DIRI ORANG PAPUA

Oleh: Charlie Imbir

Salam,

Senang dengan teori pinang, kapur dan sirih. Secara umum memang demikian adat orang papua yang mungkin juga dilakukan oleh orang diluar papua, tetapi kemudian sejarah terus berjalan , saya sepakat dengan teori biologi dan teori sejarah yang ada. Saya akan kirim juga tulisan sejarah perjalan orang papua secara umum dari pandangan sejarah, teori dan kekinian.

Tetapi bagi masyarakat umum di Papua terutama dengan orang pantai sekarang menjadi bagian di seluruh papua tanpa membedakan asal dan wilayah (terlepas dari kondisi biologi/tumbuhnya tumbuhan ini dan sejarahnya), bahwa pinang ,kapur dan sirih di pakai sebagai lambang persahabatan, persaudaraan sebagaimana yang telah di tulis bahwa barang siapa yang memberi dan menerima atau memakan pinang secara bersama adalah rasa penghormatan dan ketulusan saling menerima sebagai saudara, untuk itulah orang papua sangat menghargai siapapun yang memakan pinang di papua. Itu kontemporer saat ini, selain merujuk pada nilai ekonomi yang saat ini lebih banyak di perjualbelikan orang papua terutama mama/ibu papua di setiap kesempatan dan pasar. Walaupun pasar pinang hari ini juga dikuasai oleh masyarakat pedagang bukan papua.

Selain nilai persaudaran dari makan pinang (pinang ,sirih,dan kapur) adalah sebagai obat bagi kesehatan gigi, karna secara cerita rakyat pinang digunakan untuk kesehatan yakni pinang untuk membunuh cacing pita ataupun penyakit kulit yang akan muncul, sedangkan sirih utuk membersihkan kulit dan kewanitaan perempuan, serta kapur memberikan nilai ketahanan tubuh baik bagi laki maupun wanita, kecil maupun dewasa seperti tulang dan gigi. Untuk itulah symbol kekuatan manusia papua terletak pada wajah terutama tulang dagu, dan gigi manusia papua. Semakin giginya merah dan hitam artinya tulang dagu dan giginya akan sangat kuat dan tidak akan pernah diserang penyakit gigi. Karena mengandung zat besi.

Untuk itu juga pula tak heran kalau bayi bayi papua selalu diberi makan pinang dari keluarganya selain sebagai nilai kesehatan, pertahanan, juga sebagai nilai kebanggaan, nilai harga diri, dan kejiwaan sebagai Papuan. Sejarah makan pinang juga lahir dari peradaban rakyat papua dengan berbagai nilai yang masuk ke tanah papua sejak jaman sejarahmasuknya manusia lain ke tanah papua, seperti pertukaran guci (piring gantung orang papua untuk menikah), musik suling tambur, hingga mata uang dari kerang.

Budaya makan pinang sendiri punya banyak nilai terutama nilai persatuan, yakni dengan makan pinang seorang manusia papua akan kuat dan sehat dan bersahabat dengan banyak lingkungan sehingga tidak mudah di serang ataupun di buat jahat oleh lingkungan dan orang lain. Untuk itu juga tumbuhan pinang dan sirih sebagai tumbuhan yang sangat sacral sehingga perlu dijaga oleh pemiliknya sehingga tumbuhan ini juga masuk kedalam tumbuhan yang di sasi. Artinya dari sasi adalah barang siapa yang melanggar atau mengambil tumbuhan tanpa sepengetahuan pemiliknya ,ini akan mendapat musibah atau celaka/karma.

Sejarah makan pinang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat papua hingga saat ini, pinang menjadi symbol pemersatu dan menjadi pelantara untuk menjadi saudara papua dalam berbagai hal rapat adat, persaudaraan, perkenalan dan hingga saat ini disebut kakes. Kakes adalah Makanan/jamuan awal sebelum melakukan kegiatan kegiatan selanjutnya atau pembahasan inti dari pada suatu persoalan atau jamuan sepanjang membahas sesuatu hal. Makan pinang kemudian menjadi jati diri orang papua selain makanan inti papua sagu, kasbi, hipere(petatas), maupun japang. Makan pinang adalah warna dari sebuah keyakinan persahabatan dan persaudaraan papua.

Selanjutnya kita perlu telusuri dan meneliti ini lebih lanjut. JATI DIRI ORANG PAPUA BISA DI UKUR DARI BUDAYA MAKAN PINANG. (charles imbir).

28.7.09

PAMERAN SENI RUPA LUDAH PINANG PAPUA

Ketika dibatasi, ia pun berangsur akan menjauh sampai ke pedalaman. Lalu kita tinggal tunggu waktu musnahnya satu lagi kebudayaan Papua akibat stigma jorok, tidak bernilai, terbelakang, tidak modern, dan berbagai prasangka lain yang berbau dominasi kekuasaan global modern terhadap kebudayaan milik rakyat lokal. Jadi, mari Bung rebut kembali !

DILARANG MELUDAH PINANG DI SINI !

Di Papua, tulisan peringatan itu kini dengan mudah ditemui dimana-mana, tidak hanya di area bersih seperti rumah sakit, hotel, supermarket, gedung perkantoran, tapi juga di tempat umum dimana orang berlalu lalang, seperti pasar, pinggir jalan, dan alat transportasi. Masih untung jika para perokok disediakan asbak atau tempat abu rokok di sudut-sudut ruang tertentu, tidak demikian dengan para penikmat pinang. Tempat meludah sangat jarang disediakan di tempat umum. Maka para pemakan pinang, silahkan membawa bekal kantong plastik untuk menampung air ludahmu sendiri, dan bersiaplah karena sebentar lagi kata dilarang meludah pinang, mungkin saja akan berubah menjadi: Dilarang Makan Pinang di Area Ini! Dan jika larangan itu sampai di-Perda-kan, maka pemakan pinang bisa-bisa dicap subversif, alias melanggar peraturan pemerintah, dan berakhir di penjara! Siapa tahu… karena makan pinang dan tradisi meludahnya kini mulai dianggap sebagai kebiasaan jorok, tidak searah dengan hal-hal serba mengkilap dan modern.

Berbeda dengan rokok yang merusak kesehatan diri dan orang lain namun justru ia semakin eksis di tengah berkembangnya industri tembakau isap. Pinang sirih bukanlah produk industri, bukan pula bagian dari gaya hidup metropolis. Ia adalah sebuah tradisi kehidupan sosial yang merakyat, selalu ada di tengah musyawarah kampung, acara-acara adat, dan menjadi konsumsi harian di semua kelas sosial. Ketika makan pinang dibatasi, maka lama kelamaan ia akan menghilang, lalu kita tinggal menunggu waktu punahnya satu lagi kebudayan rakyat Papua akibat stigma jorok, terbelakang, tidak modern dan berbagai prasangka lain yang berbau dominasi oleh kekuasaan global modern terhadap kebudayaan lokal milik rakyat.

Sampai saat ini, makan pinang seakan tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Papua, terutama penduduk daerah pesisir. Mengunyah pinang di Raja Ampat Papua Barat biasa disebut sebagai Kakes. Di Sumatera dan Jawa, tradisi makan pinang (disebut juga nginang) hanya dilakukan oleh nenek-nenek, itupun kini hanya tinggal beberapa orang saja di pelosok kampung. Dubang (idu abang atau ludah merah) para simbah kini jarang ditemui lagi di pedesaan Jawa, apalagi di tengah kota yang nenek-nenekpun sudah enggan memakai kain dan kebaya. Tapi di Papua, orang akan terkejut melihat anak muda parlente makan pinang sambil ngobrol memakai HP, para mahasiswi, pegawai negeri, laki-laki perempuan segala usia, bahkan anak-anak kecil pun ikut serta menikmati pinang dengan lahapnya. Budaya makan dan meludah pinang di Papua bisa disaksikan di mana saja. Sebelum atau sesudah makan, pinang menjadi sajian yang mengasyikkan.

Meski sama-sama membuat kecanduan, sekali lagi beda dengan asap rokok yang merugikan kesehatan, makan pinang justru membuat gigi kuat dan bibir kelihatan merah merekah alami. Praktek menginang mempunyai efek positif karena bahan yang dikinang mengandung antiseptik yang dapat memperkuat gigi. Di samping itu sirih yang dikunyah dapat mengurangi bahaya karies gigi dan menjaga kesehatan mulut karena mempunyai aktifitas antioksidan.

Setelah makan pinang, terkadang kita bisa melihat warna merah tersisa di bibir dan sela-sela gigi penikmatnya. Tak heran jika dulu ada anggapan bahwa orang Papua gemar menyantap daging mentah dan minum darah manusia. Apabila ludah pinang ini kena di baju atau kain yang berwarna putih, akan terlihat bercak-bercak seperti darah yang tidak bisa hilang.

Kebiasaan menginang ini diperkirakan muncul sebelum abad ke-4 Masehi. Ia dikenal hampir oleh semua kelompok etnis di Papua mulai dari etnis yang mendiami kawasan pesisir pantai selatan, sampai daerah Kerom, perbatasan antara RI dan Papua Niugini (Hamzuri dkk.,1997). Karena begitu terikat dengan pinang, pada jaman dulu orang Papua yang mempunyai budak atau anak tak segan-segan menukarnya dengan Kakes. Dalam acara adat, dengan mantra-mantra tertentu, ludah pinang dipercaya dapat mengusir atau memanggil roh-roh leluruh. Jika kita berjalan-jalan di Kabupaten Raja Ampat, tepatnya di daerah Teluk Mayalibit atau Misool, kita akan menemukan lukisan-lukisan kuno di dinding-dinding gua atau perbukitan. Para tetua adat meyakini bahwa goresan seperti tulisan, cetak telapak tangan, dan bentuk-bentuk lain berwarna merah itu adalah ludah pinang yang telah berumur ratusan tahun!

Melukis dengan Ludah Pinang: Asli, Sehat, dan Alami

Berkarya lukis dengan ludah pinang, tidaklah sederhana dan bukan hal yang mudah saja. Seseorang yang mencoba meludah di atas kanvas, akan kesulitan jika tidak terbiasa makan pinang. Umumnya ketika membuat sebuah motif lukisan, orang akan membuat pola terlebih dahulu di atas kertas, kayu, seng, atau teknik stensil. Tapi meludah pinang dan membuat lukisan yang diinginkan dibutuhkan kemahiran, ketepatan meludah, dan kesabaran mengunyah pinang agar memperoleh efek warna dan bentuk lukisan tertentu. Berbeda dengan cat, ludah pinang jelas alami, tidak mengandung zat kimia apapun, serta warnanya terbukti mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Untuk melestarikan budaya makan pinang, beberapa pelaku seni tradisi serta masyarakat kampung di Papua Barat mencoba mengulang kembali teknik lukis masa lalu tersebut dengan berkarya menggunakan ludah pinang. Karya-karya ini dituangkan pada tembok, kulit kayu, kain, kertas, dan balok kayu. Seorang seniman patung asal Papua Barat, Yesaya Mayor dari Sanggar Seni Budaya Koranu Fyak, Raja Ampat, juga telah mencoba menggunakan ludah pinang untuk berbagai bentuk motif di atas kulit kayu, kertas, dan daun lontar. Lanjar Jiwo, seorang perupa dari Sorong, bersama-sama dengan masyarakat suku Maybrat di pegunungan Tamrau telah menorehkan ludah pinang sebagai pewarna alami pada patung-patung buatannya. Sedangkan masyarakat kampung Waifoi dan Warimak, Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat mencoba meludah pinang di atas kertas dan kain.

Mari meludah dan berkarya

Ayo, bersama menikmati pinang, ditanggung mak nyuss! Mari berpartisipasi dan mengekspresikan karya di atas kanvas, pada acara Workshop dan Pameran karya seni Ludah Pinang, pada tanggal 5 s.d. 10 Agustus 2009 bertempat di TEMBI Rumah Budaya, Jl Parangtritis Km 8,4, Timbulharjo, Sewon, Bantul. Telepon (0274) 368-000, 368-004, Yogyakarta. Dalam acara ini akan digelar berbagai karya lukis dengan media kanvas, kertas, kain baju, kulit kayu, dan patung, serta mengundang pengunjung untuk langsung terlibat berekspresi dan berkarya.

Jika hadir dalam acara pembukaan pada tanggal 1 Agustus 2009, dapat menikmati goyang Asmat, serta lagu dan musik karya-karya klasik Mambesak dan Black Brothers dalam sajian akuistik, di tengah kudapan pinang sirih yang nikmat.

Acara ini akan diselenggarakan oleh Belantara Papua, bekerjasama dengan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta dan didukung oleh Insist Press.

Kontak Person
Danar Wulandari (081248880616), ombaklaut@telkom.net
Max Binur (081344076667), wampasi@telkom.net
Lanjar Jiwo (085244191898), belantara_papua@telkom.net

MENGINANG, MEMBANGUN PERSAUDARAAN DI PAPUA

Jangan heran ketika orang Papua tertawa lebar, giginya tampak berwarna hitam kemerahan. Orang Papua memiliki tradisi menginang. Tradisi yang tak mengenal kelas ini ternyata memiliki nilai kekeluargaan dan kebebasan berekspresi.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih, Jayapura, Drs MAL Wanaha MSi, di Jayapura mengatakan, tradisi menginang memiliki satu nilai persaudaraan sangat kuat, dengan rasa sosialitas yang tinggi, dan tidak dapat digantikan dengan benda jenis apapun. Sebab, menginang tidak hanya dilakukan kaum pria, tetapi juga wanita, termasuk anak-anak remaja. Di Papua tidak ada tradisi mengisap rokok dengan bahan baku tradisional, seperti di daerah lain, kecuali menginang. Di setiap pertemuan formal atau nonformal menginang wajib dilakukan oleh peserta pertemuan, terutama para tetua adat. Tidak menginang berarti bukan "anak adat". Karena itulah, para tetua adat yang datang ke suatu acara selalu membawa sirih, pinang, dan kapur. Sebab, dalam kesempatan seperti itu bakal ada acara saling menawarkan sirih pinang dan abu kapur, meski penyelenggara acara menyediakan sirih dan pinang. Orang dinilai beretika jika dia sering menawarkan sirih dan pinang kepada orang lain. Mereka menjadikan sirih dan pinang sebagai sarana komunikasi dalam pergaulan dan bersosialisasi dengan lingkungan di mana ia berada.

Pada tahun 1930-an seorang pendatang dinilai memiliki moral dan etika jika dia mampu mengunyah pinang, sirih, dan abu kapur yang ditawarkan kepala suku. Menolak tawaran memakan pinang berarti menolak adat, sekaligus menolak keberadaan masyarakat asli tersebut. Menginang merupakan alat membangun persaudaraan, sarana komunikasi, bahan dialog dan diskusi, menjamu tamu, serta mengambil keputusan dalam adat.

Menginang memiliki nilai kesamaan budaya, serta rasa senasib dan sependeritaan. Dalam melakukan musyawarah adat, tradisi menginang lazim mengawali pertemuan. Orang tidak akan berbicara jika semua peserta belum menginang atau belum ada bahan untuk menginang di tempat pertemuan. Karena itu, tak perlu heran jika setiap ada pertemuan 2-3 orang Papua, di situ ada acara menginang. Sambil menginang orang-orang itu akan bercerita dengan santai, berdiskusi, bahkan berceramah, atau mengajar di depan kelas. Para pegawai negeri sipil atau pejabat daerah tak jarang terlihat menyimpan buah pinang, sirih, dan kapur di dalam saku celana atau tasnya.

Harga bahan baku menginang pun terus meningkat, terkait dengan makin banyaknya peminat. Tiga buah pinang ditambah batang sirih dan satu sendok makan abu kapur dijual dengan harga Rp 15.000 Dari hasil jual pinang ini, para mama-mama di Papua mampu membantu meningkatkan ekonomi rumah tangga, termasuk dalam memenuhi biaya pendidikan dan menabung. Kebanyakan penjual pinang yang ditemui di Papua adalah kaum perempuan, ini menunjukkan bahwa peranan kaum perempuan penjual pinang dalam pendapatan keluarga di Papua bukan sebagai faktor penambah, namun justru mendominasi pendapatan keluarga.

Bayangkan jika tradisi makan pinang sirih dibatasi, ribuan orang Papua akan kehilangan mata pencaharian. Jadi pembatasan makan pinang bukan hanya soal penegakan kebersihan dan sopan santun, tapi lebih dari itu merupakan eliminasi budaya dan potensi ekonomi manusia papua. (http://www.kompas.com/).


PEWARISAN BUDAYA YANG TERANCAM

Kebiasaan menginang sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia secara luas sejak zaman dahulu, baik di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku maupun Papua. Namun, tradisi itu mulai hilang. Nilai-nilai budaya seringkali merupakan ungkapan nyata dari kearifan generasi terdahulu dalam beradaptasi terhadap lingkungan dan menjalankan kehidupan secara lebih sejahtera. Budaya menginang dengan segala keanekaragaman cara dan nilai yang dikandungnya merupakan salah satu warisan pengetahuan tradisional yang memiliki nilai-nilai positif, sehingga perlu dilestarikan, termasuk pada masyarakat di Papua (Siti Susiarti, LIPI Bogor).

FILOSOFI MAKAN PIINANG SIRIH

Pinang (Areca catechu L) konon berasal dari tanah Malaya (Malaysia), bagi orang Papua bisa diibaratkan seperti kudapan sehari-hari. Makanya jangan heran, disini sodara dengan mudah bisa menjumpai anak-anak mulai usia 5 tahun dengan mulut berwarna kemerahan, tanda sedang atau habis makan pinang. Makan pinang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja saat diinginkan. Selain itu, kegiatan ini juga bernilai tinggi dalam adat kebiasaan masyarakat Papua, dalam upacara kelahiran, perkawinan, atau ritual adat lainnya, pinang adalah yang pertama disuguhkan kepada seluruh tamu yang hadir.

Dalam tradisi makan pinang, ada bahan yang tidak terpisahkan, yaitu sirih, kapur dan gambir. Keempat bahan ini merupakan satu kesatuan, ibarat bumbu masakan, bahan mesti tercampur merata. Ini yang ditemukan di kawasan barat Indonesia. Sedikit berbeda dengan di Papua, disini mereka sangat jarang yang menambahkan gambir. Mungkin karena tidak terbiasa atau tidak tahu.

Sirih adalah tanaman tropis, tumbuh di Madagaskar, Timur Afrika, dan Hindia Barat. Sirih yang terdapat di Semenanjung Malaysia ada empat jenis, yaitu sirih Melayu, sirih Cina, sirih Keling, dan sirih Udang. Dalam bahasa Indonesia, dikenal berbagai nama jenis sirih seperti sirih Carang, Be, Bed, Siyeh, Sih, Camai, Kerekap, Serasa, Cabe, Jambi, Kengyek, dan Kerak. Sirih, konon melambangkan sifat rendah hati, memberi, serta senantiasa memuliakan orang lain. Makna ini ditafsirkan dari cara tumbuh sirih yang memanjat pada para-para, batang pohon sakat atau batang pohon api-api tanpa merusakkan batang atau apapun tempat ia hidup. Dalam istilah biologi disebut simbiosis komensalisme. Daun sirih yang lebat dan rimbun memberi keteduhan di sekitarnya.Lain sirih, lain lagi kapur. Kapur diperoleh dari hasil pemrosesan cangkang kerang atau pembakaran batu kapur. Secara fisik, warnanya putih bersih, tetapi reaksi kimianya bisa menghancurkan. Kapur melambangkan hati yang putih bersih serta tulus, tetapi jika keadaan memaksa, ia akan berubah menjadi lebih agresif dan marah.

Pinang dalam bahasa Hindi buah ini disebut supari, dan pan-supari untuk menyebut sirih-pinang. Bahasa Malayalam menamakannya adakka atau adekka, sedang dalam bahasa Sri Lanka dikenal sebagai puvak. Masyarakat Thai menamakannya mak, dan orang Cina menyebutnya pin-lang. Pinang merupakan lambang keturunan orang yang baik budi pekerti, jujur, serta memiliki derajat tinggi. Bersedia melakukan suatu pekerjaan dengan hati terbuka dan bersungguh-sungguh. Makna ini ditarik dari sifat pohon pinang yang tinggi lurus ke atas serta mempunyai buah yang lebat dalam setandan.

Di Jawa atau Bali, biasanya tradisi makan pinang selalu ditambahkan gambir. Seperti sirih, gambir juga adalah tumbuhan yang terdapat di Asia Tenggara, termasuk dalam keluarga Rubiaceae. Daunnya berbentuk bujur telur atau lonjong, dan permukaannya licin. Bunga gambir berwarna kelabu. Gambir juga dimanfaatkan sebagai obat, antara lain untuk mencuci luka bakar dan kudis, mencegah penyakit diare dan disentri, serta sebagai pelembap dan menyembuhkan luka di kerongkongan. Gambir memiliki rasa sedikit pahit, melambangkan keteguhan hati. Makna ini diperoleh dari warna daun gambir yang kekuning-kuningan serta memerlukan suatu pemrosesan tertentu untuk memperoleh sarinya, sebelum bisa dimakan. Dimaknai bahwa jika mencita-citakan sesuatu, kita harus sabar melakukan proses untuk mencapainya.

Dengan memakan serangkai pinang sirih dan kapur ini, merupakan simbol dari harapan untuk menjadi manusia yang selalu rendah hati dan meneduhkan layaknya sirih. Hati bersih, tulus tapi agresif seperti kapur. Jujur, lurus hati dan bersungguh-sungguh layaknya pohon pinang. Dan jika ditambah gambir berarti sabar dan hati yang teguh bak sang gambir.

Setidaknya begitulah makna filosofis dari tradisi makan pinang (Semprolgebro).

AGENDA ACARA

Pameran Seni Rupa LUDAH PINANG
Tanggal 5 s.d. 10 Agustus 2009
Di Galeri Tembi Rumah Budaya Yogyakarta

1. Pembukaan 5 Agustus 2009, pukul 19.30
Opening Art, kolaborasi melukis ludah pinang bersama:
Wilhelmus Kalami (Papua)
Josua Kristian Binur (Papua)
Wardi Bajang (Yogya)
Enjun J.A. (Yogya)
Tri Suharyanto (Yogya)

Sajian musik akuistik karya-karya Mambesak dan Black Brothers

2. Workshop Lukisan Ludah Pinang, 6 Agustus 2009. Pukul 16.00 wib
Oleh: Belantara Papua (Wilhelmus Kalami dan Lanjar Jiwo)
Gratis untuk umum

10.10.08

API YANG MENYALA SEPANJANG MASA


Kami lahir untuk menari dan menyanyikan Air Mata mama-mama Papua serta budayanya yang terbelenggu, dimusnakan, dieksploitasi, dilecehkan, dihina,......(Macx)
Pengantar
Membangun pendidikan pada rakyat sejauh mana masyarakat harus memiliki pemahaman akan pentingnya Budaya mereka. Dan ini bukan sekedar acara serimonial belaka dan juga sangat disayangkan apabila ada pihak-pihak tertentu yang melihat pengembangan dan pelestarian budaya sebagai tindakan menghidupkan kembali budaya leluhur yang dianggap sebagai “kafir” seperti yang selama ini menjadi pandangan subyektif agama Kristen. Sebalaiknya dalam perspektif pemerintah-militer sering kali menganggap kegiatan-kegiatan budaya papua yang dilakukan dianggap sebagai kegiatan-kegiatan yang membangkitkan perlawanan terhadap pemerintah dan cenderung separatis. Bilah pandangan seperti ini terus berkembang dan dilembagakan maka usaha-usaha pengembangan kebudayaan papua hanya sebatas seremonial belaka untuk memuaskan kepentingan penguasah dan tidak ada ruang bagi usaha-usaha pengembangan budaya papua sebagai salah situs budaya dunia yang memiliki hak yang sama untuk hidup dan dilestarikan.

Karena itu sama sekali tidak benar bilah masih ada pandangan yang menganggap usaha-usaha pengembangan budaya papua sebagai bagai dari kegiatan “kekafiran” ataupun sebagai “separatis kebudayaan” . Bilah konsep seperti ini masih di pertahankan, maka sebagai masyarakat adat yang memiliki kebudayaan, kita dapat mempertanyakan, makna dari “Pacasila dan Bhineka Tunggal Ika” ataupu konsep penyebaran Agama Kristen yang “mengadopsi budaya barat” dalam tata ibadah kekristenan yang masih terus diajarkan dan dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat adat di papua.

sebab yang sangat penting bagi rakyat adalah adanya ruang berdemokrasi, berekspresi dalam budaya yang tidak mengenal ruang, batas dan waktu. Kita harus dengan sadarr bersama bahwa persoalan budaya Papua, harus dilihat sebagai satu persoalan yang unik dan dengan kacamata Ilmiah sebab sebagai asset budaya negara ini juga dunia ini yang sering terabaikan.

Disamping itu orang Papua merasakan bahwa dengan tari dan lagu, bila dinyanyikan sampai pada rerung-rerung hatinya yang terdalam. Juga kadang-kadang lagu-lagu ini beruba menjadi doa bersama orang Papua, yang diangkat kelangit yang tinggi, sebagai permohonan pada moyang-moyang penciptanya agar menciptakan orang Papua dari penindasan. Pendek Kata, ”untuk orang-orang Papua lagu-lagu dan tari adalah spirit yang menjadi penyelamat hidup, keluhan atas derita hidup, Doa agar terlepas dari belenggu penderitaan, protes terhadap harga diri yang telah direndahkan dan dihina.

Orang Papua rasa demikian karena meskipun dia hidup, ditanahnya sendiri, dibuminya sendiri, namun penguasa dan pengusaha melihatnya sebagai suatu makluk yang “aneh“, yang hina sehingga di perlakukan sebagai manusia yang tidak punya harga diri.
Dan dari kesemuanya ini, yang menjadi pertanyaan kita adalah ;”Apa yang harusnya dibuat’? kelakuan penguasa dan penguasaha, bila wilayah yang dikuasainya itu hendak ia letakan kekuasaanya, maka budaya dari bangsa yang dikuasainya itu ia matikan. Membunuh bahasanya khusus keseniannya serta lagu-lagu setempat. Sebagai penggantinya penguasai memasukan budaya tersebut; sedangkan budaya setempat dihina, direndahkan dan mencoba mematikannya dengan segala cara.

Orang dari daerah yang dikuasai, harus mepelajari budaya dari penguasa, bahasa,seni tari dan seni lagu.Bahasa penguasa harus di pelajari dipahami sampai pada hal-hal yang sekecil-kecilnya,walaupun tanah airnya tidak di pahaminya dengan baik.

Seni tari dan lagu adalah bagian dari adat suatu bangsa. Oleh karena adat dapat memberi suatu kekuatan dan semangat hidup serta jati diri bagi pemiliknya. Itulah sebabnya penguasa ingin menghilangkan adat dari kelompok masyarakat yang dikuasainya. Lebih dari itu, penguasa melakukan semua ini karena mereka mengetahui bahwa,”ADAT ADALAH HARGA DIRI SEKALIGUS MARTABAT SERTA EKSISTENSI DIRI DARI SUATU KELOPOK MASDYARAKAT”.

Sesunguhnya kita harus bersyukur bahwa pulau Papua yang terbentang dari Sorong sampai Samarai yang dihuni hampir lebih dari kurang lebih (1000) suku bangsa yang mediami suku bangsa. Kiranya budaya bisa menjadi perekat untuk menyatukan semua etnis yang ada. Sebab untuk menghancurkan suatu bangsa maka kebudayanya dulu yang pertama kali di hancurkan kata Valcoff Presiden Cekosolovakia.

Maka secara langsung orang Papua mengatakan kepada dunia bahwa orang Papua ada dan kebudayaan itu merupakan suatu perekat dengan menghargai setiap perbedaan yang terdapat pada masing-masing suku dan lewat lagu dan tari tersebut secara langsung mengambarkan keterwakilan semua suku dan etnis yang ada dan hidup dari Sorong sampai Samarai dan tanpa kebudayaan maka bangsa itu mati dan kalau tidak ada kebudayaan berarti kita tidak bisa katakan dengan bangga bahwa saya adalah anak Papua.dan dengan adanya masyarakat yang banyak ini, menadakan suatu kebangkitan baru yaitu sebuah semangat baru telah terjadi di negeri ini terutama anak-anak kecil yang adalah pewaris budaya papua, pasti secara perlahan-lahan spirit dan juga roh Mambesak yang merupakan cermin nasionalisme Papua telah masuk pada mereka dan pasti mereka–mereka ini akan lebih hebat dari pada kita-kita yang ada ini yang tadinya tercerai berai kita berkumpul dan lihatlah anak-anak negeri papua generasi baru kaliaan anak-anak mambesak dimasa depan.

Sekilas Mengenal Pusat Peradaban Budaya Etnis Moi di Sorong Papua

Maladofok Sumber Api Kehidupan dan Martabat Orang Moi.

Maladofok simbol peradaban etnis Moi disanalah terdapat “Nyala Api” yang tidak pernah padam dan selalu membakar semangat hidup orang Moi sepanjang masa …

Mungkin kita akan berkata, masa ada api yang menyala sepanjang tahun-abad…? Percaya atau tidak itulah fakta sejarah peradaban budaya orang Moi yang terlupakan…? Ya tentu bagi mereka yang tinggal di kota sorong dan yang tidak pernah mendengar sejarah peradaban budayanya. Tetapi bagi masyarakat adat yang tinggal di kampung-kampung pasti mendegar cerita pusaka ini dari orang tuanya…

Pasti orang berpikir, api yang menyala sepanjang masa adalah api di neraka…ya tentu kalau pandangan kita berorientasi pada nilai-nilai agama yang kita yakini masing-masing. Karena dalam agama–agama modern yang ada, dikenal dua tempat yang merupakan akhir dari hidup manusia yaitu Surga dan Neraka.

Bila didalam agama diyakini bahwa ada simbol api yang menyala sepanjang abad, maka dalam budaya masyarakat adat Moi juga memiliki api yang menyala sepanjang masa sejak orang Moi hadir di bumi ini atau tepatnya sejak orang Moi ada diatas tanah papua ini (khususnya) wilayah kepala burung tanah papua.

Bagi kita yang bukan berasal dari suku moi, tentu tidak percaya dan tidak mengerti, akan tetapi bagi masyarakat adat Moi (orang-orang tua) ini adalah fakta. Pertanyaannya adalah apakah sobat-sobat generasi muda moi, dimana saja berada pernah melihat, mendengar cerita ini atau tidak….?

8.12.07

MENYANYI DAN MENARIKAN AIR MATA PAPUA

1. Pendahuluan

“Seorang teman di Jawa mengatakan bahwa dirinya bisa menyanyi dan menarikan lagu dan tarian tradisional Papua dengan baik. Ia kemudian melantunkan lagu Apuse dan Sajojo, sambil bergoyang pinggul ala Yospan dengan bersemangat. Baguslah. Tapi saya ingin ia sesekali ke Papua dan menyaksikan betapa Apuse hanya salah satu lagu daerah dari satu suku di Papua yang berjumlah ratusan itu. Sedangkan Yospan (Yosim Pancar) sama sekali bukanlah tarian tradisi, melainkan tari kontemporer yang dimodifikasi dari berbagai gerak dasar tarian rakyat berbagai suku. Yospan dproduksi pada masa pemerintahan Orde baru untuk kepentingan pariwisata dan dipaksakan keberadaannya sebagai representasi tarian adat Papua di tingkat nasional”.

Papua, sebuah wilayah dengan keluasan mencapai 710.937 km2, dan 410.660 km2 diantaranya adalah daratan. Hutannya menghampar luas, jika digabung dengan Papua Nugini maka hutan Papua terhitung nomor dua terbesar di dunia setelah Amazon. Di wilayah ini, terdapat 312 suku asli dengan bahasa dan dialek masing-masing yang khas, hingga tercatat 15% dari seluruh bahasa yang ada di dunia ini dimiliki oleh Papua. Bentuk-bentuk seni orang papua pun sangat beragam sesuai etnik mereka. Di sebuah daerah dimana bahasanya berbeda dari kampung satu ke kampung lain, sangat mungkin jika ekspresi artistik yang muncul akan berbeda bentuknya. Senjata, ukiran, kerajinan, dan instrumen musik dibuat oleh orang-orang yang berbeda di tempat yang berbeda pula, sesuai dengan ketrampilan dan keyakinan tradisional mereka.

Hingga kini Papua adalah tempat dimana nilai-nilai tradisi itu masih dipegang oleh penduduk aslinya. Tak heran jika, selain kekayaan alamnya memikat hati para investor yang melihatnya sebagai sumber keuntungan tak terperi, Papua juga adalah surga bagi para antropolog di seluruh dunia.

Perubahan jaman dan arus migrasi menjadikan Papua berkembang sebagai wilayah dengan etnis bervariasi. Orang-orang terus berdatangan dari berbagai suku bangsa, hingga kini jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari seluruh orang Papua. Kini kita menyaksikan, Papua tumbuh menjadi masyarakat yang plural, baik dari segi etnis, budaya, agama, ekonomi, dan interes politik. Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan itu semakin menciptakan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, orang asli dan migran. Sementara itu nilai-nilai baru dan pola hidup yang dibawa oleh orang migran telah menyebabkan shock kultural yang hebat pada penduduk asli. Kebudayaan Papua mengalami perubahan ke arah yang tidak dipahami oleh mayoritas orang Papua sendiri. Perkembangan berbagai bidang yang didominasi corak modern, menyingkirkan kebudayaan Papua hingga jauh ke pedalaman. Perubahan ini menyebabkan suatu bentuk kebutuhan dan ketergantungan baru orang Papua terhadap produk-produk buatan industri. Orang yang semula memakai koteka di Wamena kini mulai merubahnya menjadi kain dan dengan demikian harus membeli sabun untuk mencuci. Beras yang tidak ditanam orang Papua, kini menyerbu hingga pelosok kampung menggantikan sagu dan umbi-umbian sebagai makanan pokok. Semula orang Papua yang tingal di pedalaman tidak perlu membeli beras maupun minyak dan belanga, karena umbi-umbian yang dapat dibakar dengan kayu dan batu cukup tersedia di sekeliling kampung mereka.


Sementara itu generasi baru yang muncul kemudian tidak lagi memiliki pegangan lain sebagai pengganti, dan akhirnya bergerak di tengah persimpangan antara pola tradisi lama dan budaya luar yang masuk melalui tumbuhnya kota. Perlahan-lahan budaya Papua kini terancam hilang dan orang-orang tua pewaris kebudayaan mulai cemas oleh perkembangan ini. Matinya kebudayaan Papua berarti hilangnya identitas orang Melanesia di Papua.

Salah satu ekspresi budaya adalah seni. Sebagai masyarakat dengan tradisi lisan sangat kuat, ekspresi seni di Papua didominasi oleh musik, lagu, cerita rakyat, dan tarian, yang masih dapat ditemukan di seluruh daratan Papua. Jika kita pergi ke kampung-kampung, akan terkesan betapa banyak hal dahulu dilakukan dengan lagu, musik, dan tari: berburu, berdoa, menidurkan anak, membuat perahu, menokok sagu, mencari ikan, berperang, berdamai, dll. Musik dan tari mengalir hampir di semua aktivitas kehidupan. Setiap malam menjelang matahari mulai temaram, hutan pulas dalam nyanyian serangga dan suara kodok; dan pagi harinya ketika embun turun, musik kembali terdengar. Tembang penuh semangat hidup, tembang ratapan, tembang pujaan pada keindahan alam dan penghormatan pada leluhur, atau tembang cinta yang menusuk cuaca tropis yang panas.

2. Surutnya Seni Budaya Papua
Menyebut kata Papua, bawah sadar orang yang tinggal di luar Papua seringkali melayang pada sebuah hutan belantara dengan masyarakat tanpa baju kain, yang berjalan sambil menggendong babi di pundak kiri dan memegang tombak atau kapak batu di tangan kanan. Dan ketika menyebut seni-budaya Papua, orang akan membayangkan kumpulan laki-laki perempuan dengan seluruh tubuh penuh coretan dan lumpur, menari tak beraturan sambil menjerit-jerit memanggil roh nenek moyangnya. Tak jarang orang yang tinggal di Jawa merasa ngeri untuk pergi ke Papua. Selain jaraknya yang jauh, mereka akan memikirkannya lagi berkali-kali ketika ada yang berpesan “Awas, nanti kamu dimakan oleh suku asli...”

Tak dapat dipungkiri bahwa gambaran orang Papua masih hidup dalam situasi primitif, memuja kanibalisme dan ilmu hitam, hingga kini masih tersisa di benak orang-orang di luar Papua. Pandangan ini dilekatkan dan dipromosikan sejak abad 17 oleh para antropolog yang datang ke Papua. Luigi Maria D'Albertis (1876) salah satu contohnya, antropolog ini berangkat ke Papua dengan pasukan bersenjata dan bekal amunisi lebih lengkap dari pada peralatan seorang periset. Saat pulang ke negerinya, D'Albertis memenuhi kapalnya dengan koleksi kapak batu, panah, tombak, serta potongan tubuh dan tegkorak kepala manusia papua, di samping specimen tumbuh-tumbuhan dan serangga. Barang-barang itu dibawanya ke museum di negeri asalnya sebagai tanda prestasi invensi intelektual yang luar biasa.

Cara yang dipakai oleh para antropolog tempo dulu, juga menjadi salah satu taktik yang sering dipraktekkan oleh militer di Papua saat ini. Anggota pasukan yang diturunkan di Papua selain dibebani tugas mempertahankan kesatuan NKRI, mereka juga membayangkan dirinya sedang dalam misi untuk merubah “orang kanibal agar menjadi lebih beradab” (civilizing). Dan taktik yang digunakan adalah secara langsung bertempur dengan orang-orang Papua yang “liar” itu. Hal ini tergambar jelas saat seorang penduduk Enarotali-Papua Tengah bernama Igiyouda yang tertangkap tentara dan akhirnya dieksekusi: ia ditemukan mati dalam keadaan tubuh ditusuk besi panas dari anus tembus hingga mulutnya. Pada bulan September 2001, mayat pemuda berusia 32 tahun bernama Wellem Korwam ditemukan terapung di tepi pantai dekat Wasior. Kondisi mayat Korwam mengingatkan kita pada tubuh mayat-mayat yang dibawa oleh antropolog D'Albertis ratusan tahun lalu: ia dimutilasi menjadi tujuh potongan
[1].

Lalu, siapa yang sesungguhnya kanibal?

Sikap arogan dan ketidakpahaman terhadap budaya lokal Papua telah mengakibatkan pandangan dan sikap subordinatif yang tersturuktur serta pelecehan yang mematikan. Adalah sebuah kesalahan sejarah sangat fatal ketika orang melihat dan memahami Papua sebagai gudang kekayaan sumber alam belaka dan melupakan bahwa di dalamnya hidup jutaan manusia Papua. Namun pandangan inilah yang saat ini menguasai benak penguasa dan pemodal yang meneteskan air liur saat merancang investasi masa depan, sembari berpikir bagaimana mengeliminasi berbagai kendala yang mungkin dihadapi saat mengeksplorasi keseluruhan permukaan dan perut bumi Papua. Cara eliminasi itu bisa berwujud fisik atau pun kultural.

Ketika tidak bisa lagi meniadakan penduduk setempat secara fisik, para imperialis kemudian akan mengeliminir mereka secara kultural, dengan mengatakan bahwa penduduk Papua tidak memiliki kebudayaan, atau dengan dalih bahwa kebudayaan Papua rendah dan tidak beradab. Mitos tentang koteka, jaman batu dan lain-lain kemudian sengaja dipupuk karena mendukung cara berpikir penguasa.


Sejak hadirnya misionaris kristen, beberapa seni budaya Papua mengalami penaklukan karena dianggap sebagai artikulasi paham animis, bahkan disebut kafir (misalnya seni Wor Biak). Upacara tradisi kultural dalam skala besar hanya mampu bertahan hingga tahun 1950. Perkembangan selanjutnya, Katholik dan Protestan saling berlomba dalam merebut wilayah dan umat (manusia Papua) untuk di-Kristenkan berdasarkan theologi barat. Misi ini disertai dengan penerapan larangan-larangan kepada masyarakat untuk tidak mengekspresikan seni dan budayanya. Pengkaplingan wilayah pendudukan agamapun terjadi di Papua, dimana Kristen Protestan mendapatkan jatah meliputi hampir sebagian daerah pesisir pantai utara dan pinggiran pegunungan. Sedangkan Kristen Katholik merambah wilayah pegunungan tengah dan selatan hingga sebagian kepala burung, berdampingan dengan Islam yang berkembang di kepulauan Raja Ampat dan Fak-fak. Meskipun pengaruh agama modern telah mengakar di masyrakat adat Papua, kepercayaan Pantheisme di sisi lain masih tersisa dan terpelihara dengan berbagai ritual tradisional yang dilaksanakan dalam skala kecil.
Sementara itu, bagi pemerintah (nasional) ekspresi seni budaya papua adalah sesuatu yang harus dirubah karena dianggap tidak bernilai, brutal, dan cenderung menakutkan. Rumah-rumah adat yang menjadi pusat pendidikan adat dan pewarisan pengetahuan bagi suku-suku di papua juga kemudian dilarang (misalnya rumah adat Kambik pada suku Moi, Rumsram di Biak, Jew di Asmat, Harit di Maybrat-Teminabuan, Kun pada suku-suku sekitar DAS Mamberamo-Sarmi, dll), karena selain dianggap bertentangan dengan agama modern, rumah adat dicurigai oleh militer sebagai tempat mempromosikan gagasan separitisme. Contoh lain yang hingga kini menjadi kenangan buruk bagi para seniman di Papua adalah pelarangan, penangkapan, dan pembunuhan terhadap seniman-seniman Papua. Pengalaman paling traumatis adalah penangkapan dan kematian personel Group budaya Mambesak, Arnold C. Ap oleh TNI (Kopassandha) di pantai Pasir Enam Jayapura, saat dirinya masih berstatus sebagai tahanan LP Abepura. Sedangkan Eddy Mofu ditemukan terapung di laut dengan lubang peluru di dada dan perut terobek senjata. Beberapa saat kemudian Sam Kapisa, anggota Mambesak yang juga seorang guru sekolah, meninggal secara misterius. Namun rakyat Papua yakin ia sengaja dimatikan oleh aparat militer. Dengan kematian mereka, pemerintah Indonesia telah melakukan "sesuatu" yang justru semakin menumbuhkan kesadaran nasional rakyat Papua, yakni menciptakan seorang martir yang kenangannya mempersatukan berbagai kelompok yang saling bertikai
[2].

Mengapa mereka dibunuh? Mengapa kelompok yang ingin mengangkat seni rakyat itu dimatikan, diteror, dan dimata-matai hingga kemudian hilang dan tinggal menjadi kenangan? Mengapa seni budaya Papua yang kaya ini harus diredam sementara di sisi lain pemerintah memberikan keleluasaan kepada budaya dan seniman-seniman lain di luar pulau Papua untuk mengembangkan budaya masing-masing? Lantas mengapa selalu meneriakkan jargon pengembangan budaya lokal dan Bhineka Tunggal Ika yang keramat itu?


3. Menyanyi dan Menari adalah Kerja yang Berbahaya?
Musik, lagu dan tari adalah spirit manusia Papua; dengan itu mereka bicara.

Untuk mengerti kekuatan musik dan tari di Papua Barat, dibutuhkan pemahaman tentang perjuangan demi identitas orang Papua. Dalam tekanan mendalam, musik dan tari menjadi bagian yang menggelorakan jati diri Papua, suatu identitas yang selama ini berusaha diberangus. Tetapi segala ekspresi yang mencerminkan identitas sejati orang papua justru dilarang. Pemerintah nasional seolah tidak menghendaki seorang dengan diri Papua, melainkan seorang Irian yang loyal. Dalam kenyataannya, diri Irian hanyalah khayalan dan identitas sesungguhnya tak pernah beranjak dari diri seorang Papua.

Setiap lagu dan tari memancarkan keyakinan dan harga diri seorang Papua. Untuk memahaminya, kita harus menyelami ke dalam lagu dan tari itu sendiri, dan kita akan mulai mengerti sesuatu tentang Papua. Lewat lagu kebudayaan diangkat, dan hidup rakyat dimuliakan. Lirik dan ragam yang memuja misteri serta kemolekan alam Papua, menyatakan kembali legenda dan tradisi, memberikan pengetahuan dan kearifan, juga ratapan, tawa, dan kegalauan. Berbisik tentang keseharian hidup, perjuangan serta harmoni kebersamaan. Lagu menjadi lem perekat jiwa, spirit, dan mengobarkan kembali identitas melalui tradisi oral.

Sebagaimana hidup rakyat, setiap kata lahir dari palung hati mereka, memancarkan hasrat personal terhadap situasi sekelilingnya. Justru karena itulah Eddie Mofu dan Arnold Ap dimasukkan dalam penjara oleh militer dengan tuduhan bersimpati pada gerakan separatis OPM. Namun lebih dari itu, apa yang dilakukan Mofu, Ap, Sam Kapisa, dan segudang seniman-seniman papua adalah bernyanyi dan menarikan lagu-lagu tradisional rakyat, rupanya telah menumbuhkan martabat dan kebanggaan orang Papua terhadap budayanya sendiri. Bagi pemerintah ini adalah sebuah “kejahatan”. Karena begitu dicintai rakyat dan kekuatannya yang mampu mentransformasi kesadaran orang papua dari sukuisme menjadi nasionalisme itulah yang diduga menjadi alasan kuat mengapa Mambesak perlahan-lahan dihabisi. Bangkitnya budaya papua melalui ekspresi musik, lagu, dan tari, dikawatirkan akan menguatkan rasa cinta terhadap tanah air, memunculkan sentimen ke-Papua-an, dan akhirnya mengakumulasi keinginan untuk bebas dan merdeka.

Dari lagu-lagu rakyat yang dinyanyikan oleh Mambesak, sekilas kita bisa melihat betapa sederhana syair dan musik yang dimainkannya. Namun bagi orang Papua, penuh makna karena dinyanyikan dalam bahasa tanah (asli) dan dengan dialek maupun cara yang khas masing-masing suku. Salah satu lagu rakyat Biak yang dinyanyikan Mambesak berjudul “Awin Sup Ine” menyatakan rasa bangga pada alam Papua:

Orisyun isew mandep fyarawriwek
Nafek ro masen di bo brin mandira
Napyumra sye napyumda ra nadawer
Makamyun swaro beswar bepondina

Ref
Awino kamamo sup ine ma
Yabuki mananis siwa muno
Yaswar I na yaswar I sof fioro

[Dalam cahaya gemilang, sinar mentari melukis keindahan di langit,
menggelorakan pandangan & perasaan
saat ini, tak ada yg dapat menolong,
kecuali dengan mengingat kembali peristiwa manis masa lalu
dan menghayati rasa cinta yang mengikat kita
pada tanah ini].

“Nanen Babe” lagu rakyat Sarmi -sebuah wilayah pesisir pantai utara Papua juga berisikan syair2 yang penuh arti tersembunyi:

Nanen babe nanen meina babe
Kwin matreuban maska teufyar deiwa
Teimwa Aram usker ma enap aram enap

[Bintang pagi terbit di timur ‘kan segera diikuti matahari,
Keindahan langit membawa ingatan
pada kampung halaman]

Itulah bintang terakhir di langit gelap sebelum fajar menyingsing, cahayanya memandu nelayan pulang dengan aman. Bintang kejora yang kecil dan bercahaya di pagi hari menjadi simbol kebebasan, memandu rakyat kembali pulang ke (kedaulatan) tanahnya sendiri. Sebuah lagu lain menyatakan secara terbuka suatu kemarahan dan emosi yang kuat. “Muman Minggil” yang dinyanyikan dalam bahasa Auyi -sebuah wilayah di Arso yang sarat represi militer dan porak poranda oleh penebangan kayu dan perkebunan kelapa sawit. Dengan irama yang cepat, mudah dicerna, dan berisi pesan spontan:

Muman mingil kai bekhel smetwat
Yus yata timtom fofuso
Nu manggi uwel nekwaukhu
Semfat yemse takhul yen
Nasa aya khwas

[Waktu berubah cepat,
pusaka warisan nenek moyang sirna dari pandangan,
hanya sisakan reruntuhan rumah kita,
desa tak terpelihara, tersia-sia bagai anak piatu]

Ketika Mambesak memulai pekerjaannya, banyak yang gagal memahami apa tujuan sejatinya. "Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh, tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati,” demikian Arnold Ap menjelaskan sesuatu yang dapat menggambarkan semangat Papua yang mengilhami rakyatnya.

4. Inisiatif Seniman Generasi Baru di Papua

Setelah peristiwa yang menimpa Mambesak, musik masih menjadi sebuah kekuatan yang menginspirasi gerakan perlawanan terhadap penindasan di Papua. Pesan serta falsafah Mambesak sekarang diambil dan diteruskan oleh seniman-seniman di Papua. Hingga saat ini kelompok-kelompok anak muda generasi baru yang menyadari identitasnya kian punah, mulai menekuni musik dan tari rakyat Papua. Salah satu contoh adalah mereka yang tergabung dalm Kelompok Oridek, Pandotu, dan Humeibou di Manokwari, Bengkel Budaya di Sorong, dan Black Paradise di Jayapura.

Mereka adalah kelompok-kelompok anak muda yang mencoba memadukan seni musik, lagu dan tari sebagai alat pendidikan kristis bagi masyarakat adat papua. Itulah keunikan dari group-group ini yang membedakannya dengan group-group lain yang hanya mengejar kepentingan pertunjukan, pariwisata, rekaman untuk keuntungan dagang, dll. Group musik dan tari yang dipelopori oleh para anak muda ini berusaha mengungkapkan bahwa kebudayaan Papua masih tetap hidup. Mereka menggunakan musik, lagu, dan tari untuk mengangkat identitas, martabat, dan rasa percaya diri rakyat, sekaligus mengkampanyekan penghentian kekerasan, perusakan lingkungan, dan seruan stop peminggiran orang Papua dari tanahnya sendiri.

Group Oridek, Pandotu, dan Humeibou dipelopori pendiriannya oleh Yalhimo Manokwari. Oridek adalah group musik yang beranggotakan para buruh pelabuhan di Manokwari. Humeibou beranggotakan anak-anak muda putus sekolah dan pengangguran yang diorganisir melalui diskusi dan training-training yang diselenggarakan oleh Yalhimo. Sedangkan Pandotu adalah group musik yang berdiri di kampung Werabur, distrik Windesi. Anggota Pandotu terdiri dari orang-orang kampung yang selama ini menjadi basis pengorganisasian Yalhimo.

Humeibou telah merelease 3000 copy VCD yang bertemakan persaudaraan, solidaritas, dan demokrasi. Pandotu juga telah mengeluarkan 500 copy kaset lagu-lagu rakyat bertema perdamaian dan lingkungan yang dinyanyikan dalam bahasa lokal Wamesa. Sedangkan Oridek baru saja menyelesaikan rekaman tentang lagu-lagu rakyat, termasuk Wyor yang selama ini menjadi hal tabu untuk dinyanyikan.

Sedangkan Bengkel Budaya, didirikan pada bulan Agustus 2004 oleh beberapa orang muda di Sorong. Dengan personel berjumlah 28 orang, Bengkel Budaya mencoba mendokumentasikan dan mempraktekkan kembali musik, nyanyian, dan tari tradisional rakyat yang hampir punah. Sebagian besar anggota group adalah anak muda putus sekolah yang tinggal di kampung maupun di kota. Seperti halnya anak-anak muda Papua lainnya, mereka memiliki skill memainkan berbagai alat musik, menyanyi, dan menari dengan baik. Selain membangun sanggar di pusat kota Sorong, Bengkel Budaya mulai melakukan perjalanan ke kampung-kampung untuk merintis sanggar dan mengorganisir pemuda setempat dengan seni sebagai medianya. Cara ini terbukti cukup ampuh, karena seni tradisi dengan mudah menyentuh hati rakyat dan sesuai (klop) dengan kehidupan penduduk sehari-hari. Selain melatih diri dalam hal seni, Bengkel Budaya memiliki diskusi rutin bulanan dan pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan wawasan anggotanya. Di tingkat kampung pun, selain kegiatan kesenian, sanggar juga dimanfaatkan untuk pelatihan kerja para pemuda dan tempat diskusi masalah-masalah yang terjadi di kampung serta maslah sosial budaya Papua.

Di tingkat kota, Bengkel Budaya mencoba melakukan kampanye budaya lokal dan pluralisme melalui program khusus budaya di radio lokal. Acara ini mengudara setiap satu minggu sekali, yang diisi dengan live musik tradisonal, cerita rakyat, mop, dan dialog interaktif.

Black Paradise (BP) sebuah group budaya yang terdiri dari anak-anak muda kini sedang berupaya meneruskan apa yang telah dirintis oleh Mambesak: mengasah kembali budaya yang digempur oleh militerisme, dirongrong oleh gereja, dan dieksploitasi oleh pedagang. Sebagian besar anggota group ini adalah juga aktivis HAM yang bekerja di ELSHAM Jayapura. Bekerja membela hak asasi manusia tak bisa dipisahkan dari musik mereka. Belum lama ini beberapa anggota BP melakukan perjalanan ke Timika, sebuah kota yang berada di bawah bayang-bayang pertambangan emas dan tembaga raksasa: Freeport. Perusahaan yang dilindungi ketat oleh militer ini telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang maha parah dan menciptakan sejumlah konflik sosial. Sembari melakukan investigasi pelanggaran HAM, saat di Timika anggota BP juga mengumpulkan lagu-lagu tradisional. Salah satu contohnya adalah Akai Mbipae, sebuah lagu yang menceritakan tentang kepedihan suku Amungme yang terajam oleh kehadiran pertambangan raksasa itu: seorang ibu yang menagis karena manusia, khususnya freeport telah merusak lingkungan.

BP memiliki sebuah pesan sederhana yang ingin disampaikan pada publik: "Kami ada untuk mengungkapkan bahwa kebudayaan Papua masih tetap hidup. Kami ingin Pemerintah Indonesia menghentikan kekerasan di tanah Papua, dan membiarkan kami berkarya”. Beberapa waktu lalu BP melakukan tour ke Australia, dalam sebuah konser bertajuk Morning Star Concert for West Papua. Sebuah konser yang ingin menunjukkan apa yang terjadi di sebuah pulau besar yang berjarak beberapa mil dari pantai Australia ini. BP ingin menyentuh dan menginspirasi orang-orang di Australia untuk belajar lebih banyak tentang Papua barat, meski dalam kehadirannya yang hanya sesaat. “Kemanusiaan dan kedamaian di Planet ini adalah hak milik semua orang, dan harus diperjuangkan oleh setiap orang, dimanapun ia berada”. BP telah merelease 5000 copy CD musik dan telah beredar di Papua, Australia, Pasifik, dan Eropa melalui jaringan kampanye HAM dan perdamaian yang telah dibangun.


5. Penutup

Di sebuah tempat dimana ekspresi identitas menjadi bagian yang diperjuangkan, musik, lagu, dan tarian pun menjelma senjata. Sebagai media, ia memiliki kekuatan untuk membangkitkan kemarahan, kesedihan, suka cita, dan persaudaraan. Namun kini musik, lagu, dan tarian tradisi rakyat juga menghadapi gempuran bentuk-bentuk kesenian asing yang membawa serta paradigmanya sendiri. Di Papua adalah sebuah kerja teramat berat untuk bagaimana mempertahankan berbagai bentuk tari dan musik menjadi identitas budaya. Meski bergerak dinamis seni dan budaya tetaplah harus menjadi bagian yang dimiliki, dipahami, dan menjadi satu dalam “diri papua” yang kontekstual, tidak tercerabut dari akar, sehingga mampu menuntun manusia Papua ke arah kesejatian hidup, saat ini dan di masa depan.


[1] Eben Kirksey, Anthropology and Colonial Violence in West Papua, Cultural Survival Quarterly Fall 2002
[2] Dr. George Junus Aditjondro; Bintang Kejora Di Tengah Gelap Malam, Penggelapan Nasionalisme Orang Irian Dalam Historiografi Indonesia, 4 Juni 1993